
Gelas kosong kembali ditampilkan dalam ruang yang lengkap dengan sajian butir-butir ilmu. Pengais-pengais ilmu hadir dengan kesiapan mengisi gelas itu untuk dibagikan kepada khalayak, bahwa ini adalah bagian dari katalisator. Ruang hall yang berisi orang-orang hebat terasa sejuk di tengah pemanasan dialog antara narasumber dan moderator. Pena dan kertas tak diberi kesempatan untuk tetap memaku di meja yang dibalut dengan kain hitam elegan. Sebotol air mineral turut menemani goresan pena yang memadati kertas kosong berlabel Grand Whiz.
Kegiatan bertajuk Journalist & Influnecer Camp dengan tema “Cultivating Muhammadiyah Content Creator for Global Impact” ini digelar oleh Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik dengan tujuan menyongsong kiprah literasi dakwah digital Muhammadiyah di berbagai elemen. Dua narasumber dihadirkan pada Sabtu (8/11/2025) di Hotel Granz Whiz, Trawas, untuk menyulut semangat literasi peserta dalam dunia kepenulisan dan dinamika media digital.
Suhartoko, Ketua MPID PDM Gresik sekaligus redaktur senoir giri.mu, menegaskan bahwa kegiatan ini untuk melambungkan kapasitas bagi peserta agar mampu menggerakaktifkan dakwah digital lewat berita dan konten media sosial. Selain itu, ia juga menambahkan, mengingat 90 peserta kegiatan ini berasal dari AUM se-Kabupaten Gresik, penting kiranya untuk memulai dukungan dakwah digital di tempat masing-masing sembari mengepakkan sayap lebih tinggi di berbagai platform.
Dua pemateri dengan eksistensi yang gemilang turut menyongsong kegiatan yang berlangsung dua hari ini. Pertama, Drs. Andriono, seorang jurnalis senior, pegiat literasi, dan penulis banyak buku sukses memantik semangat menulis para peserta. Dengan gaya retorika yang ringan dan akrab memadukan bahasa Jawa membuat pemirsa merasa dekat dan mudah terhubung. Pentingnya menjadi penulis yang tidak terpengaruh cara instan menjadi topik pembuka untuk merespons sat-setnya perkembangan teknologi digital.
“Kalau tiap hari makan roti,
Bisa-bisa tak mau makan roti,
Kalau tiap hari pakai ChatGPT,
Bisa jadi hilang jati diri.” tandasnya dalam kemasan pantun.
Menggarisbawahi paparan Lima Teknik Menulis Feature, Andriono mengenalkan teknik martabak dengan membeberkan berbagai informasi terlebih dahulu untuk melahirkan tulisan yang ideal. Selain itu, anatomi bonsai juga menjadi pelengkap dalam menajamkan pengetahuan terkait feature. Tampilan bonsai terlihat pendek tetapi utuh dan menarik terlihat dari liukan batang dan ranting menambah nilai estetik.
Narasumber kedua, Muhammad Irwan, CEO @infogresik, juga sukses menyulut semangat bermedia sosial. Ia menyampaikan fokus materi tentang Instagram yang menjadi salah satu media eksistensi dakwah digital melalui poster dan reels. Di hari kedua, tidak hanya reseptif menerima materi, peserta juga menjadi produktif dalam sesi praktik, yakni membuat feature (berita kisah) dan konten reels. Di era ini, dakwah perlu dibungkus dengan cara-cara yang menarik agar memiliki kesan dekat dengan setiap orang. Jika dahulu dakwah menjadi langka dan dominan dalam forum mimbar, maka saat ini dakwah dapat ditemui dalam satu kali klik, baik yang berupa tulisan maupun video singkat.
Perjalanan dan proses ini mampu memantik setiap penulis untuk merefleksikan diri dalam balutan karya abadi. Menggoreskan pena dalam ruang digital menjadi langkah strategis untuk mentrasformasikan berbagai kabar dan informasi. Hadirnya penulis-penulis yang kompeten, dimulai dari kontributor web, menjadi langkah konkret kader Muhammadiyah menuju dakwah digital yang berdaya dan berdampak.
Penulis: Dwiki Ayu Pramudya
Dokumentasi: Panitia JIC dan Alfian Haris Budianto

No responses yet