
Peningkatan kualitas pembelajaran abad ke-21 menuntut guru untuk peka dan adaptif dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran. Dalam upaya tersebut, kepala SMP Muhammadiyah 2 Balongpanggang menyelenggarakan pelatihan guru sebagai langkah peningkatkan kapasitas dan keterampilan pedagogis yang menunjang proses pembelajaran. Ibu Tria Heni Agustina, S.Kom., M.Pd., menjadi pemateri dalam Pelatihan Penyusunan RPP dengan Pendekatan Mendalam (Deep Learning) serta Perencanaan Kokurikuler dengan tema “Mengoptimalkan Teknologi untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran”. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu (22/01/2026) mulai pukul 12.30 – 16.30 WIB, di ruang guru.
Kegiatan pelatihan ini diikuti oleh guru-guru Spemdaba sebagai wujud komitmen sekolah untuk memperdalam kompetensi pendidik yang difokuskan pada merancang pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Melalui pelatihan ini, guru dibekali ruang refleksi, diskusi, dan praktik agar mampu menerjemahkan konsep pembelajaran mendalam ke dalam perencanaan yang sesuai dengan prinsip dan pengalaman belajar dengan pendekatan mendalam.
Untuk mengawali kegiatan, kepala SMP Muhammadiyah 2 Balongpanggang, Abdul Rahman, S.Pd., menyampaikan dalam sambutannya bahwa ini adalah ruang belajar bersama. Mengingat sebanyak 80% guru di Spemdaba merupakan guru baru yang tergolong masih muda-muda. Oleh karena itu, diharapkan pelatihan ini menjadi pemantik dan momentum untuk membangun budaya belajar yang lebih berkualitas.
Dilanjut sesi pemaparan materi pertama, yakni tentang pendekatan Pembelajaran Mendalam yang dibahas tuntas melalui rumus 8334 (8 Dimensi Profil Lulusan, 3 Prinsip Pembelajaran Mendalam, 3 Pengalaman Belajar, dan 4 Kerangka Pembelajaran). Ibu Tria menekankan bahwa rumus ini perlu dikuasai guru di luar kepala karena menjadi dasar utama dalam penyusunan RPP.
Pada sesi materi kedua, guru juga dibekali dengan pemahaman tentang perencanaan kokurikuler yang menjadi penguat kegiatan intrakurikuler. Forum Kombel (Komunitas Belajar) guru dimanfaatkan sebagai ruang diskusi dan kolaborasi, termasuk dalam merancang kegiatan kokurikuler. Dalam diskusi tersebut, teridentifikasi bahwa sebagian guru memerlukan pemahaman yang lebih mendalam terkait teknis pelaksaan. Hal inilah yang melatarbelakangi diselenggarakan pelatihan dengan menghadirkan pemateri untuk memberikan penguatan dan kejelasan konsep.
Interaksi antara guru dengan pemateri berlangsung aktif dengan dialog interaktif. Pada setiap pembahasan, guru menyambut materi dengan mengajukan pertanyaan yang relevan dengan kondisi serta kebutuhan sekolah. Diskusi pun berlangsung dengan lancar melalui dialog dan studi kasus yang dikaitkan langsung dengan permasalahan sehari-hari yang dihadapi guru Spemdaba.
Antusias guru ini menjadi salah satu indikator untuk memperbarui dan mengembangkan ilmu. Guru tidak hanya diarahkan untung merancang pembelajaran sebagai dokumen administratif, tetapi juga sebagai denah pembelajaran yang mampu memberikan dampak nyata bagi proses belajar murid.
Harapan besar kembali tumbuh pascakegiatan ini, yakni terwujudnya perencanaan pembelajaran intrakurikuler dan kokurikuler yang lebih bermakna dan berdampak bagi murid, serta senada dengan dimensi profil lulusan yang menjadi aspek krusial dalam konteks pendidikan berkarakter saat ini.
Penulis: Dwiki Ayu Pramudya
Dokumentasi: Indah Tri Utami Ningsih

No responses yet